Jumat, 14 Januari 2011

BAHASA DAN KOMUNIKASI

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Bhasa atau language merupakan produksi dari alat-alat bicara manusia (organ of speech) digunakan sebagai alat untuk komunikasi dan berinteraksi. Bahasa mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan ini fakta me-nunjukkan bahwa manusia dapat saja menggunakan alat komunikasi lain se-lain bahasa. Namun, bahasa verbal tetap merupakan alat komunikasi yang paling baik dan sempurna.

B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan pengertian bahasa!
2. Mengapa bahasa dikatakan alat komunikasi!
3. Apa hakikat bahasa itu!

C. Tujuan Penulisan

Memberikan pemahaman mengenai bahasa itu satu-satunya alat komuni-kasi yang paling baik dan sempurna. Kajian bahasa ada yang bersifat mikro dan bersifat makro dengan kata lain ada kajian bahasa secara internal dan ka-jian bahasa secara eksternal. Dalam mempelajari Bahasa dapat mengentahui kaidah-kaidah, system dan norma yang ada dalam bahasa itu. Misalnya, da-lam bahasa Indonesia harus diketahui bahwa “di” ada dua, yaitu “di” sebagai kata depan atau (preposisi), dan “di” sebagai awalan atau (prefiks).

D. Manfaat Penulisan

Bahasa di dunia ini sangat beragam dan berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Setiap bahasa memiliki karakter, cirri dan keunikannya masing-masing baik dari segi Fonologi, Morfologi Maupun Sintaksisnya. Akan tetapi, bahasa-bahasa itu juga mempunyai sifat-sifat universal, artinya setiap bahasa memiliki kesamaan-kesamaan yang berlaku secara umum. Mengkaji persoa-lan-persoalan bahasa atau kaidah-kaidah secara umum misanya Bahasa In-donesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Makassar, Bahasa Bugis dan lain sebainya.







BAB II


PEMBAHASAN


BAHASA DAN KOMUNIKASI


A. Pengertian Bahasa

Kata “bahasa” dalam Bahasa Indonesia mempunyai banyak makna. Kalau di-tanyakan apakah bahasa itu?, maka pada umumnya jawaban yang akan muncul ialah bahasa merupakan alat komunikasi. Jawaban ini tidak benar, karena hanya memandang bahasa sebagai alat. Jawaban di atas akan benar bila yang ditanyakan adalah fungsi bahasa, karena bahasa memang digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Teta jawaban itu sangat wajar karena bahasa adalah sebuah fenomena social yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

Oleh karena itu bahasa dapat dilihat dari berbagai aspek dan sudut pandang, maka dapat saja muncul beragam jawaban ketika ada pertanyaan seperti di atas. Seorang yang mengamati pemerolehan atau aksasi bahsa anak balita terhadap bahasa Ibunya (B1) dapat mengatakan bahwa bahasa itu adalah sebuah kebiasaan. Ada yang mengamati hubungan antara bahasa dengan pikiran dapat mengatakan bahwa bahasa itu adalah sebuah referensi buah pikiran. Bloomfield dalam Hambali (2001: 19), mengawali tulisan The Study of Language dengan kalimat “Language plays a great part in our life”. Sebenarnya manusia itu dapat juga menggunakan alat komunikasi lain selain bahasa. Namun, tampaknya ba-hasa merupakan alat komunikasi yang paling baik dan sempurna dibandingkan alat komunikasi lainnya. Akan tetapi jawaban itu berdasar fenomena-fenomena sosial bukan mencerminkan sosok utuh bahasa itu. Ada hal yang sangat esensi dan mendasar yang tidak terungkap yaitu bahasa adalah lambang-lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat bicara manusia yang bersifat arbitrer.

Defenisi bahasa yang tidak hanya menunjukkan fungsi sosial telah dikemu-kakan, yaitu bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan men-gidentifikasikan diri (Kridalaksana dalam Hambali, 2007: 14).

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa bahasa itu mempunyai ciri atau hakikat, sebagai berikut:

a. Bahasa adalah sebuah sistem,
b. Bahasa berwujud lambang,
c. Bahasa berupa bunyi,
d. Bahasa bersifat arbitrer,
e. Bahasa itu bermakna,
f. Bahasa itu konvesional,
g. Bahasa itu unik,
h. Bahasa itu universal,
i. Bahasa itu produktif,
j. Bahasa itu dinamis,
k. Bahasa itu berfariasi,
l. Bahasa itu interaksi sosial dan
m. Bahasa itu merupakan identitas peniturnya.

B. Wujud Satuan Bahasa

Satuan artinya organisasi unsur yang bermakna atau penggalan-penggalan dari peri laku yang bermakna. Hirarki satuan-satuan bahasa yaitu:

1. Fonem, satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat menunjukkan perbe-daan atau berkontras. Eksistensinya kecil akan tetapi kehadirannya mampu membedakan arti atau makna.

2. Morfem, satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian-bagian bermakna yang lebih kecil.

3. Kata, satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri atau yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. Dapat dibentuk dari satuan morfem (dia, mereka, lari, meja, rumah dan lainnya). Akan tetapi dapat juga dibentuk dari dua morfem atau lebih.

4. Frase, yaitu merupakan satuan gramatikal dari gabungan dua kata atau lebih yang tidak melebihi fungsi sintaksis atau tidak bersifat predikatif (Ramlan dalam Hambali, 2001: 18). Frase ialah satuan gramatikal yang terdiri dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fingsi unsur klausa.

5. Klausa, satuan gramatikal yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat dan memiliki potensi untuk membentuk atau menjadi kali-mat. Ramlan dalam Hambali (2001: 19) mendefinisikan klausa sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari S, P, baik disertai O, pelaku dan kete-rangan, maupun tidak.

6. Kalimat, susunan atau gabungan dari beberapa kata yang mengandung pengertian yang lengkap. Kridalaksana dalam Hambali (2001: 21) men-definisikan bhwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relative ber-diri sendiri, mempunyai pola intonasi yang final atau akhir yang secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.

7. Paragraf, satuan bahasa yang mengandung satu tema dan pengemban-gannya (Kridalaksana dalam Hambali, 2001: 22).

8. Wacana, satuan bahasa yang paling lengkap yang dapat direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh seperti artikel, novel, buku, ensiklope-dia dan sebagainya.

C. Aspek-Aspek Bahasa

Untuk mengkaji bahasa secara ilmiah, bahasa harus dipisah ke dalam bebe-rapa aspeknya. Berbicara tentang aspek-aspek, maka yang dimaksud disini adalah:

a. Aspek Fonologi

Fonologi atau fhonology adalah cabang linguistik yang mempelajari fonem (unit atau sekelompok bunyi) terkecil dalam suatu bahasa tertentu yang dapat membedakan makna atau berkontras. Misalnya dalam Bahasa Indonesia /I/, dan /s/ adalah sebuah fonem, karena kehadirannya dapat membedakan arti kata “laku” beberapa maknanya dengan “laku”.

Ahli linguistik atau linguis dalam menyelidiki bahasa biasanya memulai dengan memperhatikan unit bunyi terkecil dengan teknik “pasangan terkecil atau minimal pair”. Cara ini dilakukan dengan membuat pasangan kata den-gan perbedaan satu fonem saja untuk membedakan arti kata dengan kata yang lain. Kedua bunyi yang berbeda dalam pasangan itu merupakan dua fonem karena kehadirannya dapat membedakan arti.

Contoh: /pahit/, /jahit/, /para/, /bara/, /tidur/, /timur/, /berat/, /barat/, /paku/, /saku/, /dalam/, /dalang/, /butuh/ dan /bunuh/.

Dalam pasangan kata di atas terbukti bahwa kehadirannya membawa makna tersendiri. Karena itu berbedalah makna kata “pahit” dan “jahit”, kata “para” dan “bara”, kata “dalam” dan “dalang”, kata “butuh” dan “bunuh”, kata “paku” dan “saku”.

b. Aspek Morfologi

Morfologi atau morphology adalah bagian atau cabang linguistik yang mempelajari dan menganalisis susunan atau struktur bentuk dan klasifikasi kata secara gramatikal. Ramlan (1987: 21) mengemukakan bahwa morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi peruba-han-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi se-mantik.

Perubahan-perubahan bentuk kata menyebabkan adanya perubahan go-longan dan arti kata. Golongan kata sepeda tidak sama dengan golongan kata bersepeda. Kata sepeda termasuk golongan kata nominal, sedangkan kata bersepeda termasuk golongan kata verba. Demikian pula golongan kata rumah dan jalan, misalnya dalam kalimat Rumah itu disewakan dan Jalan itu sangat licin. Berbeda dengan golongan kata berumah dan berjalan. Kata be-rumah dan berjalan termasuk golongan kata verba.


c. Aspek Sintaksis

Sintaksis atau syntax adalah cabang ilmu linguistik atau tata bahasa yang mempelajari struktur kalimat sebagai pernyataan gagasan. Menurut Ramlan (1987: 24) sintaksi, mempelajari hubungan antar kata/ frase/ klausa/ kalimat satu dengan yang lain/ frase/ klausa/ kalimat yang lain, atau tegasnya mem-pelajari seluk-beluk frase, klausa, kalimat dan wacana. Dalam bidang sintak-sis dipelajari deretan dan hubungan timbale balik antara kata, frase, klausa dan kalimat. Kalimat “Mahasisiwah jurusan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia rajin mempelajari linguistik umum” member makna tertentu karena konstruksinya mengikuti kaidah-kaidah Sintaksis Bahasa Indonesia.


d. Aspek Semantik

Semantik atau semantic adalah cabang linguistik yang mempelajari mak-na atau arti. Semantik mengikuti perubahan-perubahan makna kata, ungka-pan mempelajari makna konotatif dan makna denotatif serta ketidakjelasan makna kata atau ungkapan.

Keridalaksana dalam Hambali (2007: 26) mengartikan semantic sebagai bagian struktur bahasa yang yang berhubungan dengan makna ungkapan, struktur makna suatu bicara dan penyelidikan makna dalam satu bahasa atau bahasa pada umumnya.

Makna atau arti lahir dalam tata bahasa morfologi dan sintaksis, maupun dalam leksikon. Karena itu semantik sebagai kajian linguistik tidak terlalu berkembang dibanding sintaksis. Kurang berkembang nya itu karena Makna atau arti (meaning) adalah sesuatu yang sulit untuk diberi pengertian yang ilmiah objektif dan universal. Para ahli linguistik tidak memilih menyelidiki bagaimana gagasan atau kata-kata itu lahir dan berada dalam pikiran. Mere-ka lebih menyelidiki bagaimana gagasan itu diungkapakan melalui kata dan kombinasinya.

D. Struktru Lahir dan Struktur Batin

Aspek bahasa yang mencakup struktur batin (deep structure) dan struktur la-hir (surface structure) diperkenalkan dalam tata bahasa Generative Transforma-sional. Struktur batin dapat didefinisikan sebagai struktur yang dianggap menda-sari kalimat atau kelompok kata, yang mengandung semua informasi yang diper-lukan untuk interpretasi sintaksi dan semantic kalimat, dan tidak nyata secara lansung dari deret linear kalimat atau kelompok kata itu. Misalnya “meja kayu” dan “meja kantor” mempunyai kesamaan dalam struktur lahir, berbeda dalam struktur batin. Yang pertama manyatakan “asal”, sedangkan yang kedua berarti “kepunyaan atau untuk” (Kridalaksana dalam Hambali, 2007: 42). Tuturan yang nyata menggambarkan urutan linear bunyi, kata, frase dan kalimat merupakan struktur lahir. Biasanya dalam struktur yang generative transformasional struktur lahir itu merupakan struktur yang tampak dari struktur yang tidak tampak. Dalam Bahasa Indonesia kalimat “saya makan nasi kemarin”, memiliki dua kemungki-nan arti yaitu “apakah kemarin saya makan nasi” atau “nasi kemarin saya ma-kan”. Konstituen kemarin dapat menjadi adverbial (kata yang memberikan kete-rangan pada verba dan adjektiva) dalam kalimat, dapat juga menjadi atribut da-lam frase “nasi kemarin”.

Dalam praktik analisis bahasa di atas, khususnya kalimat perbedaan struktur lahir dan struktur batin itu memberikan keuntungan dibandingkan dengan analisis unsure lansung yang lazim digunakan dalam tata bahasa structural. Analisis unsure lansung tidak mampu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam kalimat yang ambigu, yakni kalimat memiliki tafsiran ganda.

E. Beberapa Teori Tentang Bahasa

Banyak orang berkata bahwa bahasa itu adlah sebuah misteri. Dalam kajian atau studi bahasa banyak hal yang belum dapat diselasaikan atau dipecahkan, termasuk asal usul bahasa. Oleh sebab itu muncul beberapa teori tentang baha-sa. Cerita dari Mesir lain juga, pada abad sebelum MS Raja Mesir (Psemmeti-chus) ingin menyelidiki bahasa pertama, caranya diambil dari dua bayi secara acak dari keluarga biasa. Kedua bayi itu diserahkan kepada tukang gembala un-tuk dirawat dengan tanpa kata atau bahasa. Setelah kedua bayi itu berumur dua tahun, mereka menyambut perawatnya itu dengan ucapan “becos” yang dalam bahasa Phrygia (Mesir Kuno) berarti “roti”. Dari situlah raja berteori dan berke-simpulan bahwa bahasa Mesir Kuno adalah bahasa pertama di dunia ini.

Ada lagi versi lain, seekor kura-kura diutus memebawa tulisan atau bahasa kepada orang-orang Cina. Di Jepang bahasa pertama dihubungkan dengan Tu-han Amaterasu. Orang Babilonia mempercayai bahwa bahasa pertama adalah bahasa yang berasal dari Tuhan Nabu. Suku Dayak Iban di Kalimantan mempu-nyai legenda yang menyatakan bahwa pada zaman dulu manusia hanya mem-punyai satu bahasa, tetapi karena mereka karecunan cendawa lalu mereka ber-bicara dalam berbagai bahasa, sehingga timbul kekacauan, dan manusia ber-pencar kesegala penjuru arah. Untuk lebih jelasnya, (baca: Islam dan Bahasa: 24 dan Linguistik Umum oleh Chear: 7)

Pada akhir abad ke-18 spekulasi asal usul bahasa itu berpindah dari bersifat mistik, tahyul, spekulasi kebabakan baru yang disebut sebagai Fase Organik atau Organik Phase. Fase ini diawali terbitnya buku “uber de ursprung de sprace (on the origin of language)”, tahun 1772 oleh Jhon Gottfried von Herder, yang mengemukakan bahwa tidak tepat mengatakan mengatakan bahwa bahasa itu adalah anugrah dari Tuhan. Menurutnya, bahasa itu lahir karena adanya doron-gan manusia untuk mencoba-coba berpikir. Bahasa itu ada karena adanya hen-takan naluri. Teori ini sejalan dengan teori evolusi yang dipelopori oleh Immanuel Kant kemudian diusulkan oleh Charles Henry Darwin (1890-1882).

Menurut C. H. Darwin dalam Hambali (2007: 50), kualitas bahasa manusia dibandingkan dengan suara hewan, hanya berbeda dalam tingkatan saja. Bahasa manusia itu sama halnya dengan manusia itu sendiri, berawal dari bentuk premitif. Karena ada rasa jengkel atau jijik, manusia mengeluarkan suara dari hidung atau dari mulut, terdengarlah bunyi “pooh atau pish”.

Saat ini para ahli antropologi menyimpulkan bahwa manusia dan bahsa tum-buh berkembang secara bersama-sama. Faktor-faktor yang mempengaruhi per-kembangannya sampai pada homo sapiens juga mempengaruhi bahasanya. Manusia memiliki kemampuan serta mulai menemukan dan menggunakan alat-alat, lalu mulailah manusia itu berbicara dan berbahasa. Karena kedua fasilitas di atas manusia dapat mengelolah masukan dari alam sekitar. Dari pikiran terjadi proses konseptual yang kemudian dilahirkan dalam bentuk ujaran atau tulisan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar